Minggu, 24 Januari 2010

Negeri Para Pencuri

Seperti malam-malam biasanya, malam inipun hujan turun, tidak deras memang tapi cukup untuk membuat tanaman di halaman rumah kami basah kuyup. Tak ada yang kami kerjakan selain nyemil dan menikmati acara televisi yang menyiarkan beragam berita mulai dari berita entertain, bencana banjir dan longsor sampai berita mengenai kasus korupsi di negeri tercinta kita ini, Indonesia. Entah, kesalahan apa yang sudah dilakukan oleh bangsa ini sampai para dewa mengutuk negeri ini menjadi negeri para koruptor, pencuri, maling.

Coba saja kita lihat trotoar yang berada di sepanjang jalan protokol di depan pusat-pusat perbelanjaan dan pertokoan, nyaris tak ada ruang sedikitpun untuk para pejalan kaki padahal trotoar dibangun khusus sebagai tempat para pejalan kaki supaya jalan tidak macet, lalu lintas lancar dan semua orang bisa sampai pada tempat tujuannya tepat waktu sesuai agendanya masing-masing. Tapi apa kenyataannya, semua telah disulap sebagai tempat parkir dan lucunya (katanya sih) justru tempat-tempat seperti itu (trotoar maksudnya) "diperjual belikan" oleh para aparat yang berwenang dengan memakai jasa para penguasa (preman) di area tersebut. Ironis bukan??

Padahal apa yang dilakukan tersebut adalah melanggar hak orang lain, yakni para pejalan kaki. Kenyamanan para pemakai jalan lainnyapun terampas oleh kegiatan parkir memarkir seperti ini. Tetapi anehnya, para pelaku ini tidak pernah merasa bersalah sedikitpun. Bahkan mereka malah bertindak seolah-olah trotoar tersebut adalah warisan dari mbah buyutnya jadi hanya dia yang berhak sedangkan orang lain harus permisi terlebih dahulu jika melewati tempat tersebut. Astaghfirulloh...

Contoh lain dari kejadian curi mencuri ini, diantaranya; kita begitu terbiasa kalau naik bis umum selalu mencari tempat duduk yang kosong, biasanya berisi dua kursi atau tiga kursi, dan kita biasanya memilih tempat duduk yang belum terisi penumpang sama sekali dengan harapan agar kita mendapat tempat yang longgar, tidak gerah sehingga selama perjalanan kita merasa nyaman. Dan ditenggah-tengah perjalanan kalaupun ada penumpang yang naik biasanya kita pura-pura tidak tahu sambil menggeser tempat duduk kita ke samping agar terlihat seolah-olah tempat yang kita duduki ini sudah penuh padahal sebenarnya masih kosong karena kita tidak mau berdesak-desakan.

Bukankah tindakan seperti itu juga melanggar hak orang lain. Lha, kita cuma membayar satu karcis kok itu kan berarti kita hanya memiliki hak untuk menempati satu kursi saja sementara kursi lainnya adalah hak penumpang lain sehingga hal-hal seperti tanpa kita sadari sebenarnya sudah masuk dalam kategori pencurian. Lha iyo to...

Apa memang mental kita seperti itu ya?! Ataukah itu terjadi hanya karena kekhilafan dan kelalaian kita saja. Kalau memang itu hanya merupakan bentuk dari kelalaian kita saja, ya syukur alhamdulillah berarti tinggal kita banyak istighfar, memohon ampunan Tuhan, sudah habis perkara. Tapi yang ditakutkan kalau hal itu terjadi dan kita lakukan dengan penuh kesadaran dan kesengajaan, wah ini bahaya berarti dalam diri kita memang ditumbuhi oleh mental maling (nau'udzubillah) berarti ini parah.

Tak ada bedanya kita dengan para koruptor-koruptor itu dong, pencuri uang rakyat itu. Yang membedakan hanya kesempatan yang kita miliki saja, seandainya kita memiliki kesempatan seperti yang dimiliki oleh para koruptor itu tentu kitapun akan melakukan hal yang sama karena ternyata e ternyata mental kita ini adalah mental maling. iyo ta, Cak..?!

Duh Gusti..mugi-mugi Panjenengan paringi kulo lan sederek kulo sedoyo anugerah iman lan Islam ingkang kuat supados kito saget ajeg nglampahi perintah Panjenengan ugo saget ninggalaken sedoyo larangan Panjenengan. Amin Allohumma amin...

Semar, nggrayangi jithoke dewe

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar